Rabu, 17 Oktober 2012

Karya Tulis Keselamatan di Jalan


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.        Latar Belakang
Kepadatan lalu lintas bisa terjadi karena mobilitas yang tinggi. Mobilitas yang tinggi menuntut masyarakat agar tidak tertinggal oleh kemajuan jaman, salah satunya yaitu dengan memiliki kendaraan. Tidak bisa kita pungkiri lagi, dampak negatif kendaraan bermotor menjadi pembicaraan serius bagi masyarakat modern, yaitu selain mengurangi keuangan, tidak sedikit orang terbunuh di jalanan akibat kepadatan lalu lintas. Sejak ditemukannya kendaraan bermotor lebih dari seabad lalu, diperkirakan sekitar 30 juta orang telah terbunuh akibat kecelakaan jalan. Dari fenomena tersebut bisa dipastikan bahwa kendaraan bermotor menjadi penyebab terbunuhnya banyak orang di dunia. Bahkan orang yang mati di jalan raya akibat kecelakaan kendaraan bermotor lebih banyak dibandingkan dengan korban kecelakaan angkutan udara, laut, danau, maupun kereta api.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa di tahun 2020 penyebab terbesar ketiga kematian adalah kecelakaan jalan raya, tepat dibawah penyakit jantung dan depresi. WHO mencatat bahwa 1 juta orang di seluruh dunia meninggal setiap tahunnya di jalan raya akibat kecelakaan, dimana 40% diantaranya berusia 25 tahun. Sementara itu, jutaan orang lainnya mengalami luka parah dan cacat fisik akibat kecelakaan. (www.google.com)
Angka kecelakaan di Indonesia menunjukkan tren peningkatan setiap tahunnya. Data Departemen Perhubungan RI menunjukkan bahwa tahun 2003 terdapat 13.399 kecelakaan lalu lintas di seluruh Indonesia, kemudian tahun 2004 terdapat 17.734 kecelakaan dan pada tahun 2005 terdapat 33.827 kasus kecelakaan dan 36% diantaranya (12.178 orang) meninggal dunia. Menurut data Korps Lalu Lintas Mabes Polri, pada 2011 total korban kecelakaan jalan mencapai sekitar 177 ribu orang. Sebanyak 31.185 korban atau 17,64% adalah korban tewas. (Kompas Cyber Media, Jumat 4 Mei 2007)
Melihat fakta bahwa manusia merupakan 85% penyebab kecelakaan lalu-lintas, maka yang diperlukan adalah pembinaan dan pengembangan SDM pelaksana transportasi (sopir, kernet, mekanik, dan lain lain). Jika ketiga komponen transportasi ini berkumpul untuk membicarakannya, ketiga instansi itu pasti akan geleng kepala dan berkata “ini bukan urusan instansi kami”. (artikel online Karyadi Sum)

1.2.        Identifikasi Masalah
1.      Kurangnya kematangan masyarakat dalam berkendara di jalan raya.
a.       Banyaknya calon pengemudi yang gagal dalam ujian SIM A. Dari hasil kuisoner menunjukkan 70% (17 responden) dari 23 responden yang mengikuti ujian pernah gagal dalam ujian untuk mendapatkan SIM A. (www.ngobrolaja.com)
b.      Cara mendapatkan SIM C dengan menggunakan calo ataupun sogokkan. Biasanya orang yang ingin mendapatkan SIM C dengan cara yang mudah dan cepat adalah menggunakan calo, bahkan terkadang ada yang rela merogoh kantung sakunya untuk memberi sogokkan kepada aparat yang bertugas di pembuatan SIM.
c.       Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang rambu lalu lintas atau tanda-tanda yang ada di jalan raya.
2.      Kurangnya persiapan sebelum berkendara.
3.      Sosialisasi tentang keselamatan berkendara yang belum sepenuhnya terlaksana.
4.      Suasana alam yang kurang mendukung pengendara dalam berkendara di jalan raya.

1.3.        Rumusan Masalah
Berdasarka latar belakang dan identifikasi masalah di atas maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut. Bagaimana membudayakan cara berkendara yang baik kepada masyarakat modern di Indonesia?
1.4.        Ruang Lingkup
Dalam karya tulis ini, penulis membahas hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan berkendara yang meliputi:
1.      Safety riding.
2.      Safety driving.
3.      Rambu-rambu lalu lintas dan masyarakat sebagai pengguna jalan.

1.5.        Tujuan
1.      Memberi pengetahuan kepada masyarakat Indonesia tentang cara berkendara yang baik untuk meminimalisir kematian akibat kecelakaan di jalan raya.
2.      Memberi pengetahuan kepada pengendara kendaraan tentang rambu-rambu lalu lintas.
3.      Mendukung program pemerintah yaitu safety riding dan safety driving sebagai upaya untuk mengurangi jumlah kecelakaan lalu lintas.

1.6.        Manfaat
1.      Sebagai bentuk pembelajaran bagi masyarakat Indonesia untuk lebih disiplin dan berpikir matang apabila akan mengendarai kendaraan.
2.      Diharapkan masyarakat Indonesia mendapatkan informasi yang relevan dengan judul karya tulis ini.

1.7.        Metode Penelitian
Penulis mengambil metode karya tulis dengan tinjauan pustaka, sebagai landasan teori dan data untuk memperkuat data penulis.
Untuk mendapatkan data yang mendukung, penulis juga mengambil data dari internet, serta melalui wawancara dengan pihak yang bersangkutan.



BAB II
PEMBAHASAN
A.        Safety Riding
1.    Pengertian
Mengingat banyaknya korban jiwa dan besarnya kerugian ekonomi serta sosial yang ditimbulkan oleh kecelakaan jalan, maka mendesak perlu dibangun budaya keselamatan jalan (road safety culture) di Indonesia. Bermacam upaya dilakukan agar mengurangi tingkat kecelakaan yang tinggi, salah satunya adalah Safety Riding. Istilah Safety Riding mengacu kepada perilaku berkendara yang secara ideal harus memiliki tingkat keamanan yang cukup bagi diri sendiri maupun orang lain.
Pengetahuan dapat menekan tingginya kecelakaan di jalan raya, untuk itu para pengguna jalan harus mempunyai pengetahuan yang cukup. Sosialisasi tentang seputar keselamatan berkendara, pentingnya pemanasan tubuh saat hendak berkendara, kesiapan kendaraan, posisi berkendara yang ideal, dan lain-lain juga diperlukan. Dalam hal ini polisi sebagai aparat pengatur keamanan dan ketertiban jelas menjadi oknum yang paling penting untuk mensosialisasikan hal tersebut kepada masyarakat.
Pihak Kepolisian mempunyai sebuah buku, yaitu Vademikum Polisi Lalu Lintas yang berisi pengetahuan keselamatan berkendara baik itu safety driving untuk pengendara mobil maupun safety riding untuk pengendara sepeda motor serta pengguna jalan yang lain, hanya saja buku ini tidak dapat dikonsumsi secara umum. Ukuran buku ini sangat tebal karena tidak hanya berisi tentang materi lalu lintas tetapi juga tentang polisi lalu lintas itu sendiri, baik sejarah maupun profilnya, selain itu buku ini tidak untuk diperjual belikan kepada masyarakat umum. Dengan buku panduan tersebut, polisi bisa menyebarluaskan kepada masyarakat tentang keamanan berkendara yang tujuannya sudah jelas yaitu untuk mengurangi angka kematian akibat kecelakaan di jalan raya.

2.    Generasi Muda sebagai Pengguna Jalan
Usia 17 tahun adalah usia remaja untuk mendapatkan SIM, dimana mereka sudah mendapat izin untuk berkendara di jalan raya. Hal yang paling utama untuk remaja yang sudah mendapatkan SIM adalah pengetahuan dalam berkendara. Akan tetapi, karena kurangnya pengetahuan mengendarai kendaraan sering menyebabkan kecelakaan lalu lintas yang berakibat fatal. Bagi mereka keselamatan berkendara bukanlah suatu hal yang perlu dipelajari, mereka pikir hati-hati saja sudah cukup untuk melakukan perjalanan di jalan raya. Kurang tanggapnya remaja akan kecelakaan di jalan bisa disebabkan karena berkendara merupakan suatu hal yang baru bagi mereka. Persiapan sebelum mengendarai kendaraan juga mutlak diperlukan agar dalam perjalanan pengendara merasa nyaman.
Kesiapan berkendara yang diperlukan untuk sepeda motor antara lain:
a.       Sarung Tangan, sebaiknya memiliki lapisan yang dapat menutupi kedua belah tangan dan bahan yang dapat menyerap keringat serta tidak licin saat memegang grip/handle motor.
b.      Jaket, sebaiknya mampu melindungi seluruh bagian tubuh baik dari terpaan angin maupun efek negatif kala terjadi benturan baik kecil maupun besar.
c.       Helm (minimal Half Face), sebaiknya mampu memberikan proteksi lebih kepada kepala, poin inilah yang selalu dilewatkan oleh tipikal bikers pengguna helm ‘catok’ dan sejenisnya.
d.      Sepatu, haruslah mampu memberikan kenyamanan serta keamanan bagi seluruh lapisan kaki.
Masyarakat yang bepergian menggunakan sepeda motor di jalan raya harus taat pada peraturan lalu lintas. Tidak kalah penting juga masyarakat perlu bimbingan dalam berkendara yaitu dengan program safety riding. Pembelajaran safety riding inilah yang harus benar-benar dicermat oleh pengendara kendaraan.
Secara umum untuk pelatihan praktek safety riding diajarkan:
a.       Teknik pengereman dengan hanya mengandalkan rem depan, rem belakang, dan kombinasi keduanya. Teknik ini untuk membiasakan bikers untuk membedakan fungsi dua sisi rem saat hendak berhenti berakselerasi. Selain itu, apabila pengendara telah terbiasa dengan teknik ini pengereman mendadak juga bisa teratasi dengan mudah tanpa harus takut tergelincir.
b.      Teknik “slalom” dengan cone di lintasan. Teknik ini untuk melihat kemampuan pengendara menikung dengan cepat dari sisi kiri ke kanan dan sebaliknya. Kemampuan membelok pengendara juga bisa dilihat melalui teknik ini.
c.       Teknik berjalan di lintasan ala “bumpy-road” , teknik ini untuk membiasakan bikers untuk memberi kenyamanan saat jalan tidak mulus atau bergelombang.
d.      Teknik berkendara di lintasan lurus dan sempit berupa bilah dengan asumsi kendaraan berjalan di jalan kecil dan diliputi kemacetan. Teknik ini untuk membiasakan diri bagi bikers untuk tetap dapat melakukan handling tanpa menurunkan kaki dalam kecepatan rendah.
Perangkat keamanan semacam decker lutut dan siku, serta helm wajib digunakan untuk peserta pelatihan safety riding. Dari materi-materi seperti inilah diharapkan muncul niatan dari para pengendara untuk membiasakan diri sendiri memberi upaya keselamatan berkendara.
Menurut Agung Surya, Chief Instructor PT Astra Honda Motor yang merupakan lulusan Rainbow Saitama Japan, tahapan safety riding yaitu:
1.      Jika sepeda motor disandarkan oleh standar pinggir (standar miring), janganlah duduk terlebih dahulu melainkan bebaskan standar miring dengan menggunakan kaki kiri, setelah itu kendaraan siap digunakan.
2.      Bila kendaraan distandar dua, melepaskannya gunakanlah kaki kiri.
3.      Disaat melakukan perjalanan maka pastikan empat jari kanan dan kiri telah berada dituas rem depan dan kopling (jika terdapat kopling).
4.      Disaat ingin melakukan pemberhentian utamakanlah rem depan, karena beban berat anda akan berada di depan dan ini membuat kendaraan lebih cepat berhenti. Cara melakukan pengereman depan yang baik adalah dengan meremas secara perlahan yang diawali jari kelingking dan diakhiri jari telunjuk, tidak dengan menekan secara bersamaan.
5.      Rem belakang hanya digunakan sebagai penyeimbang rem depan saja agar tidak terjatuh.
6.      Setelah kendaraan sudah mulai berhenti barulah anda menarik kopling dengan cara meremasnya pula. Hal ini pun bertujuan agar mesin kendaraan tidak mati.



B.        Safety Driving
1.    Pengertian
Sama halnya dengan safety riding, safety driving juga mengacu pada keamanan saat berkendara di jalan raya, sehingga menekan jumlah kematian akibat kecelakaan. Safety driving dikhususkan untuk para pengguna mobil, sedangkan safety riding dikhususkan untuk pengguna motor. Safety driving dianggap sebagai metode aman berkendara di jalan raya bagi para pemula.
Manfaat dari training safety driving yaitu:
1.      Meningkatkan kesadaran peserta akan pentingnya sopan santun berlalu-lintas di jalan raya, khususnya yang mengendarai mobil roda empat.
2.      Mengetahui apa saja yang bisa menyebabkan kecelakaan lalu-lintas serta bagaimana mencegahnya.
3.      Mengerti tata cara mengendarai kendaraan di jalan tol.
Apabila pengemudi sadar akan bahaya yang bisa terjadi sewaktu-waktu ketika pengemudi sedang mengendarai mobil di jalan raya, maka kecelakaan dapat diminimalisir. Kesadaran itulah yang harus dimiliki oleh setiap pengemudi.
Pengetahuan safety driving berkaitan dengan prinsip dasar dari safety driving yang terdiri dari menguasai cara berkendara dengan baik, mengenali karakter berkendara dengan baik di semua kondisi jalan, memahami rambu-rambu lalu lintas, memahami peraturan dan etika berlalu lintas serta mengutamakan keselamatan berkendara baik keselamatan pengendara, penumpang maupun pengendara lain.

2.    Remaja Sebagai Pengguna Jalan
Remaja identik mengikuti hal-hal yang sedang menjadi tren saat ini. Mobil merupakan salah satu tren yang sedang digemari remaja, dengan ruangan dalam mobil yang cukup nyaman digunakan ketika berkendara di jalanan, serta biaya mobil yang terbilang mahal, menuntut mereka untuk tampil menarik di depan teman-teman mereka. Sehingga mereka lebih percaya diri apabila berangkat ke sekolah dengan menggunakan mobil pribadi. Oleh karena itu, mereka harus memiliki SIM A. Untuk mendapatkan SIM A tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Membuat SIM A memerlukan kesiapan dan kematangan dalam mengendarai mobil, karena kedua hal itu akan diujikan dalam tes praktek, selain terdapat tes teori. Namun, banyak remaja yang ingin mendapatkan SIM secara mudah tanpa melalui tes tersebut. Mereka bahkan memberi sogokkan kepada aparat yang bertugas di pembuatan SIM, parahnya lagi aparat yang bersangkutan menerima sogokkan tersebut. Akibatnya ketidakmatangan remaja dalam berkendara menyebabkan kecelakaan lalu lintas terjadi di mana-mana.

C.        Keselamatan di Jalan Raya
1.    Rambu Lalu Lintas
a.    Pengertian
Rambu lalu lintas adalah perangkat yang memuat lambang, huruf, angka, kalimat dan/atau perpaduan diantaranya, dan digunakan sebagai peringatan, larangan, perintah atau penunjuk bagi pemakai jalan.
Rambu terbagi menjadi 5 macam yaitu sebagai berikut:
1.      Rambu Peringatan
Rambu ini berisi peringatan bagi para pengguna jalan bahwa di depan ada kemungkinan bahaya atau tempat berbahaya. Rambu ini didesain dengan dasar berwarna kuning dengan lambang atau tulisan berwarna hitam dan umumnya berbentuk belah ketupat.
2.      Rambu Larangan
Rambu ini berisi larangan-larangan yang tidak boleh dilakukan oleh pengguna jalan (pengemudi). Rambu ini dirancang dengan latar putih dan warna lambang atau tulisan merah atau hitam.
3.      Rambu Perintah
Rambu yang berisi tentang perintah yang harus dikerjakan pengguna jalan. Rambu perintah ini didesain dengan bentuk bundar berwarna biru dengan lambang berwarna putih dan merah untuk garis serong sebagai batas akhir perintah.
4.      Rambu Petunjuk.
Rambu yang dibuat untuk menunjukkan sesuatu.
5.      Papan Tambahan
Papan tambahan digunakan untuk memuat keterangan yang diperlukan untuk menyatakan hanya berlaku untuk waktu-waktu tertentu, jarak-jarak dan jenis kendaraan tertentu ataupun perihal lainnya sebagai hasil manajemen dan rekayasa lalu lintas.
2.    Upaya Menekan Jumlah Kecelakaan di Jalan Raya
Kecelakaan memang terjadi tanpa pandang bulu, tetapi pengendara bisa mengantisipasinya dengan mengambil tindakan jitu dalam berkendara, yaitu siap kendaraan dan pengemudinya.
Teknik Sipil Universitas Widyagama Malang mengemukakan tentang metode penganggulangan kecelakaan.
a.       Metode Pre-Emptif
Metode pre-emptif sebagai upaya penangkalan di dalam menanggulangi kecelakaan lalu lintas, pada dasarnya meliputi perekayasaan berbagai bidang yang berkaitan dengan masalah transportasi, yang dilaksanakan melalui koordinasi yang baik antar instansi terkait, maka pengemudi akan lebih mampu mengantisipasi dan mengeliminasi secara dini dampak-dampak negative yang mungkin akan timbul.
Metode pre-emptif dalam menanggulangi kecelakaan lalu lintas secara arbitrasi dapat diimplementasikan melalui tindakan terpadu di dalam:
1)      Perencanaan pengembangan kota.
2)      Perencanaan tata guna lahan.
3)      Perencanaan pengembangan transportasi.
4)      Perencanaan pengembangan angkutan umum.
5)      Perencanaan yang menyangkut komponen-komponen system lalu lintas.
b.      Metode Preventif
Metode preventif adalah upaya-upaya yang ditujukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas, yang dalam bentuk konkretnya berupa kegiatan-kegiatan pengaturan lalu lintas, penjagaan tempat-tempat rawan, patrol, pengawalan dan lain sebagainya.
Mengingat bahwa kecelakaan lalu lintas itu dapat terjadi karena faktor jalan, faktor manusia dan faktor lingkungan secara simultan (dalam satu sistem, yaitu sistem lalu lintas) maka upaya-upaya pencegahannya pun dapat ditujukan kepada pengaturan komponen-komponen lalu lintas tersebut serta sistem lalu lintasnya sendiri.
Secara garis besar, upaya-upaya tersebut diuraikan sebagai berikut:
1)      Upaya pengaturan faktor jalan
a)      Karakteristik prasarana jalan akan mempengaruhi intensitas dan kualitas kecelakaan lalu lintas, maka dalam pembangunan setiap jaringan jalan harus disesuaikan dengan pola tingkah laku dan kebiasaan pemakai jalannya.
b)      Lebar jalan yang cukup, permukaan yang nyaman dan aman, rancangan yang tepat untuk persimpangan dengan jarak pandang yang cukup aman, dilengkapi dengan rambu-rambu, marka jalan dan tanda jalan yang cukup banyak dan cukup jelas dapat dilihat (informatif), lampu penerangan jalan yang baik, serta koefisien gesekan permukaan jalan yang sesuai dengan standar geometrik.
2)      Upaya pengaturan faktor kendaraan
a)      Faktor karakteristik kendaraan juga sering membawa dampak tingginya intensitas dan kualitas kecelakaan lalu lintas, kendaraan harus dirancang, dilengkapi dan dirawat sebaik-baiknya. Kecelakaan lalu lintas dapat dihindari apabila kondisi kendaraan prima (stabil).
b)      Kepakeman rem dan berfungsinya lampu-lampu adalah erat kaitannya dengan perawatan. Karena itu perlu pemeriksaan rutin melalui pengujian berkala yang dilaksanakan tanpa ada toleransi.
3)      Upaya pengaturan faktor manusia
a)      Faktor pemakai jalan merupakan elemen yang paling krisis dalam sistem lalu lintas, karena kesalahan pejalan itu sendiri yang pada umumnya lengah, ketidakpatuhan pada peraturan dan mengabaikan sopan santun berlalu lintas.
b)      Metode yang diterapkan dalam meningkatkan unjuk kerja pengemudi adalah dengan tes kesehatan fisik dan psikis dengan pendidikan dan latihan.
c)      Pendidikan dan latihan harus mencakup pelajaran tentang sopan santun berlalu lintas. Penelitian tentang penyebab kecelakaan adalah mereka yang berpendidikan Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menengah Atas. Fakta ini menunjukkan adanya hubungan yang erat antara manusia dan tingkat pendidikan dengan kecelakaan lalu lintas di jalan.
d)     Penegakkan hukum, pengawasan dan pemberian sanksi hukuman harus tetap diterapkan seefektif mungkin agar pemakai jalan selalu menaati peraturan.



BAB III PENUTUP
A.  Kesimpulan
          Keselamatan lalu lintas terjadi karena ulah dari pengemudi itu sendiri. Pengemudi harus tahu tentang cara berkendara yang baik, agar kecelakaan lalu lintas bisa diminimalisir.
            Rambu-rambu lalu lintas pun menjadi hal pokok yang harus dicermati pengemudi dalam berkendara di jalan raya.
            Sebagai pengguna jalan yang mengerti akan peraturan, sudah sewajarnya kita tunduk dan patuh terhadap ketentuan tersebut.

B.  Saran
1.      Safety riding dan safety driving yang merupakan program pemerintah harus lebih disosialisasikan kepada masyarakat, khususnya remaja agar remaja memiliki rasa aman dalam berkendara di jalan raya.
2.      Rambu-rambu lalu lintas seharusnya lebih diperjelas untuk mempermudah pengemudi dalam membaca atau melihat rambu tersebut.
3.      Kesiapan dan kematangan berkendara mutlak diperlukan remaja apabila akan membuat SIM. Hal itu bertujuan agar remaja tidak terkejut lagi ketika berkendara di jalanan bebas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar